Kamis, 29 Desember 2011

PESTA DANAU TOBA 2011

PESTA Danau Toba (PDT) 2011 resmi dibuka pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara, Gatot Puja Nugroho di Open Stage Parapat, Selasa sore. 

Acara tahunan tersebut diharapkan menjadi kalender even Kementerian Pariwisata da Ekonomi Kreatif. Sesuai dengan penetapan  pemerintah yang akan menjadikan Danau Toba sebagai daerah strategis nasional dan kepariwisataan khusus yang digagas Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa.

Meski tidak jadi diresmikan Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, acara tersebut tetap berlangsung lancar. Hatta Rajasa gagal mendarat karena cuaca buruk.

Dengan disuguhkan indahnya panaroma alam Danau Toba, acara tersebut diisi dengan sejumlah pertunjukan kebudayaan, seperti tarian dan lagu tradisional. 
 
Gatot mengatakan, penetapan Danau Toba sebagai daerah strategis nasional tinggal tahap finalisasi, yang hanya menunggu persetujuan presiden untuk ditindaklanjuti dalam bentuk keppres. 

"Agar pelaksanaan mendapat dukungan dan komitmen penuh dari kementerian –kementerian, seperti kementerian PU dan kementerian pariwisata. Untuk menuju Danau Toba sebagai ikon kepariwisataan Sumut dan nasional dibutuhkan infrastruktur dan berbagai kelengkapan pendukung lainnya, seperti sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan juga dukungan dari berbagai pihak," ujar Gatot Puja Nugroho dalam press realese yang diterima okezone, Selasa (27/12/2011).

Untuk mendukung majunya Danau Toba, pemerintah pusat diharapkan segera merealisasikan pembangunan jalan tol Medan menuju kawasan tersebut. Ini karena, jarak tempuh dan infrastruktur menuju lokasi wisata itu cukup jauh yang bisa memakan waktu 6 sampai 7 jam dari Medan.

Pesta Danau Toba 2011 ini dijadwalkan akan terus berlangsung sampai 30 Desember 2011 mendatang dengan sejumlah kompetisi yang diikuti oleh perwakilah dari sejumlah daerah di Indonesia. Di antaranya, kompetisi panjat tebing.





Sabtu, 03 Desember 2011

THE S.I.G.I.T Grup Musik Garda Depan Generasi Muda

“Yang diperlukan untuk membuat sebuah band dan mengupayakan supaya bandnya bisa sukses atau setidaknya berjalan terus adalah kesungguhan dan usaha, sisanya adalah murni unsur keberuntungan.”  - Rektivianto Yoewono, vokalis THE S.I.G.I.T





 The S.I.G.I.T bukanlah sebuah band karbitan yang sekedar mengandalkan unsur keberuntungan. Perjalanan karir mereka dimulai dari pertemanan semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Proses demi proses mereka lalui hingga kini The S.I.G.I.T banyak dianggap sebagai salah satu grup musik garda depan dari generasi muda di dunia musik rock Indonesia.

Pada awalnya, para personil The S.I.G.I.T yakni Rektivianto Yoewono (Vocal, gitar), Farri Icksan Wibisana (Gitar), Aditya Bagja Mulyana (Bas, vokal latar) dan Donar Armando Ekana / Acil (Drum) hanyalah sekumpulan pecinta musik akut yang setiap hari di kepala mereka berisi band-band favorit serta segala seluk beluk teknis musik seperti gitar, efek ataupun cerita-cerita biografi. “Mungkin tarafnya sama seperti anak remaja yang menggilai pemain bola dan tim sepak bola,“ kenang Rekti mengenai masa remajanya dulu.

Berangkat dari kecintaan yang dalam terhadap musik serta mengidolakan berbagai band yang sama, maka kala itu mereka berempat sepakat untuk mengubah predikat selama ini dari pendengar musik menjadi pemain musik.

Kemampuan bermain musik yang mereka pelajari secara otodidak menjadi modal awal untuk menjadi ‘anak band’. “Skill permainan masing-masing juga berawal dari tahap yang sama dan pengembangan skill permainan dan pembuatan lagu juga diasah bareng selama ini,” tukas Rekti.

Walau sudah bermain musik bersama sedari SMP (1997), namun nama The S.I.G.I.T baru digunakan pada tahun 2002, saat mereka tengah duduk di bangku perguruan tinggi seiring juga mereka memfokuskan diri untuk memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri. Sebelum menggunakan nama The S.I.G.I.T, band ini kerap memainkan berbagai lagu dari banyak band idola mereka seperti Led Zeppelin, The Clash dan The Stooges.

Nama The S.I.G.I.T sendiri merupakan kepanjangan dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent yang merupakan buah pikiran Rekti yang terinspirasi dari nama-nama band di luar sana yang kerap menggunakan singkatan yang memiliki banyak arti.

Penampilan perdana mereka di bawah nama The S.I.G.I.T terjadi pada tanggal 23 Oktober 2003 dalam sebuah acara fakultas Arsitektur, Universitas Parahyangan. Kebetulan Farri dan Acil memang berkuliah disana. Setelah penampilan perdana tersebut, nama The S.I.G.I.T pelan-pelan mulai bergaung di kalangan kampus. Acara demi acara di kampus mulai menjadi santapan mingguan mereka.


Hingga pada saat itu, mereka mendapat tawaran dari Spills Records untuk merilis sebuah mini album. Di tahun 2004, debut mini album yang hanya dikerjakan dalam waktu dua minggu akhirnya dirilis dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Walau begitu, pemunculan mereka kala itu juga tidak lepas dari komentar miring sebagian pihak yang menganggap mereka hanyalah band yang mengikuti tren saja. Anggapan itu muncul karena musik rock yang mereka mainkan serupa dengan musik garage rock yang di awal periode 2000-an sedang naik daun. Untuk anggapan miring tersebut, Rekti berpendapat, “Memang kebetulan pada era awal 2000an sedang marak band-band rock revival seperti The Strokes, The Datsuns, The White Stripes dan mereka saat itu ‘dilabeli’ sebagai garage rock. Memang kami mengikuti dan mendengarkan band-band tersebut. Bukan karena sedang booming, melainkan karena kami selalu menggemari musik semacam itu. Dan yang kami rasakan saat itu adalah euforia. Bayangkan gimana rasanya aliran musik yang anda gemari bangkit kembali dan bermunculan lagi band-band yang menarik. Namun tanpa adanya booming garage rock pun saya yakin kami akan menjadi band seperti kami sekarang, yang mendapatkan banyak influence dari band rock 60-70an.”


Jumat, 25 November 2011

Parna (Pomparan ni si Raja Naiambaton)

Pomparan ni si Raja Naiambaton biasa disingkat menjadi PARNA, yaitu marga-marga yang dipercayai sebagai keturunan dari Raja Naiambaton yang karenanya tidak boleh menikah satu dengan yang lainnya. Hal ini dipertegas dalam tulisan-tulisan pustaha Batak yang berbunyi “Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru” dalam bahasa Batak Toba, yang dapat diartikan dengan ”Keturunan Raja Naiambaton adalah sama-sama pemilik putra dan putri,” yang dalam arti lebih luas lagi dapat diartikan bahwa ”Putra-putri keturunan marga-marga Naiambaton tidak boleh menikah satu sama lain.” 
Satu tulisan menyatakan bahwa Raja Naiambaton merupakan keturunan keenam dari Raja Batak, seperti berikut: Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan, memperanakkan Raja Isumbaon, memperanakkan Tuan Sorimangaraja, memperanakkan Raja Asiasi, memperanakkan Sangkaisomalindang, dan memperanakkan Raja Naiambaton


Marga-marga Parna

Terdapat perbedaan pada jumlah marga yang masuk dalam kelompok Parna ini, hal ini disebabkan karena adat kebudayaan Batak yang dapat menggunakan marga leluhur, percabangan marga kakek, ayah, atau bahkan percabangan marga baru. Tetapi walau berbeda marga, semuanya mengaku dipersatukan oleh ucapan di atas (“Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”).
Adapun marga-marga batak yang termasuk dalam Pomparan Ni Raja Nai Ambaton (PARNA) yaitu:

1. Bancin ( sigalingging )
2. Banurea ( sigalingging )
3. Boangmenalu ( sigalingging)
4. Brampu ( sigalingging )
5. Brasa ( sigalingging )
6. Bringin ( sigalingging )
7. Dalimunthe
8. Gajah ( sigalingging )
9. Garingging ( sigalingging )
10. Ginting Baho
11. Ginting Beras
12. Ginting Capa
13. Ginting Guruputih
14. Ginting Jadibata
15. Ginting jawak
16. Ginting manik
17. Ginting Munthe
18. Ginting Pase
19. Ginting Sinisuka
20. Ginting Sugihen
21. Ginting Tumangger
22. Haro
23. Kombih (sigalingging )
24. Maharaja
25. Manik Kecupak (sigalingging)
26. Munte
27. Nadeak
28. Nahampun
29. Napitu
30. Pasi
31. Pinayungan (sigalingging ? )
32. Rumahorbo
33. Saing
34. Saraan (sigalingging )
35. Saragih Dajawak
36. Saragih Damunte
37. Saragih Dasalak
38. Saragih Sumbayak
39. Saragih Siadari
40. Siallagan
41. Siambaton
42. Sidabalok
43. Sidabungke
44. Sidabutar
45. Saragih Sidauruk
46. Saragih Garingging
47. Saragih Sijabat
48. Simalango
49. Simanihuruk
50. Simarmata
51. Simbolon Altong
52. Simbolon Hapotan
53. Simbolon Pande
54. Simbolon Panihai
55. Simbolon Suhut Nihuta
56. Simbolon Tuan
57. Sitanggang Bau
58. Sitanggang Gusar
59. Sitanggang Lipan
60. Sitanggang Silo
61. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 ( sigalingging )
62. Sitio
63. Tamba
64. Tinambunan
65. Tumanggor
66. Turnip
67. Turuten

Bukittinggi City

History



The city has its origins in five villages which served as the basis for a marketplace.The city was known as Fort de Kock during colonial times in reference to the Dutch outpost established here in 1825 during the Padri War. The fort was founded by Captain Bauer at the top of Jirek hill and later named after the then Lieutenant Governor-General of the Dutch East Indies, Hendrik Merkus de Kock. The first road connecting the region with the west coast was built between 1833 and 1841 via the Anai Gorge, easing troop movements, cutting the costs of transportation and providing an economic stimulus for the agricultural economy. In 1856 a teacher-training college (Kweekschool) was founded in the city, the first in Sumatra, as part of a policy to provide educational opportunities to the indigenous population. A rail line connecting the city with Payakumbuh and Padang was constructed between 1891 and 1894. 


During the Japanese occupation of Indonesia in World War II, the city was the headquarters for the Japanese 25th Army, the force which occupied Sumatra. The headquarters was moved to the city in April 1943 from Singapore, and remained until the Japanese surrender in August 1945.During the Indonesian National Revolution, the city was the headquarters for the Emergency Government of the Republic of Indonesia (PDRI) from December 19, 1948 to July 13, 1949.


During the second 'Police Action' Dutch forces invaded and occupied the city on December 22, 1948, having earlier bombed it in preparation. The city was surrendered to Republican officials in December 1949 after the Dutch government recognized Indonesian sovereignty.The city was officially renamed Bukittinggi in 1949, replacing its colonial name. From 1950 until 1957, Bukittinggi was the capital city of a province called Central Sumatra, which encompassed West Sumatra, Riau and Jambi. In February 1958, during a revolt in Sumatra against the Indonesian government, rebels proclaimed the Revolutionary Government of the Republic of Indonesia (PRRI) in Bukittinggi. The Indonesian government had recaptured the town by May the same year.A group of Muslim men had planned to bomb a cafe in the city frequented by foreign tourists in October 2007, but the plot was aborted due to the risk of killing Muslim individuals in the vicinity. Since 2008 the city administration has banned Valentine's Day and New Year's celebrations as they consider them not in line with Minangkabau traditions or Islam, and can lead to "immoral acts" such as young couples hugging, kissing and not to mention fornicating.





Transportation





Bukittinggi is at a strategic position, connected with the several other cities include the cities that are outside West Sumatera such as : Pekanbaru ( Riau Province ) and Medan ( North Sumatera Province ) and a town which past traversed by Trans Central Sumatera. Aua Kuniang Terminal is the main terminal freight ground transportation in this city. Meanwhile, for inner-city transportation, Bukittinggi employs a public transportation system known as Mersi (Merapi Singgalang) and IKABE that connect locations within the city. The city also still preserves the traditional horse-kart widely known in area as Bendi, altough the used is limited and more popular to be used as vehicle for tourist, both domestic and foreign.


Administration


Bukittinggi is divided in 3 subdistricts (kecamatan), which are further divided into 5 villages (nagari) and 24 kelurahan. The subdistricts are:
1. Guguk Panjang
2. Mandiangin Koto Selayan
3. Aur Birugo Tigo Baleh.




Tourism and Public Place


It is a city popular with tourists due to the climate and central location. Attractions within the city include:

  1.  Ngarai Sianok (Sianok Canyon) 


Sianok Canyon

2.  Lobang Jepang (Japanese Caves) - a network of underground bunkers & tunnels built by the Japanese during World War II



Lobang Jepang

3. Jam Gadang - a large clock tower built by the Dutch in 1926. 

Jam Gadang (literally "Massive Clock") is a clocktower and major landmark of the city of Bukit Tinggi, West Sumatra, Indonesia. It is located in the centre of the city, near the main market, Pasar Atas, and is a tourist attraction. There is something unique from this clock. The numbers from the clock are all Roman Number. But the number 4 at the clock is mistakenly as “IIII”, where it must be “IV”. 
The structure was built in 1926 during the Dutch colonial era, as a gift from the Queen to city's controleur. It was designed by architects Yazin and Sutan Gigi Ameh. Originally a rooster figure was placed on the apex, but it was changed into a Jinja-like ornament during theJapanese occupation of Indonesia. Following Indonesian independence, it was reshaped to its present form resembling traditionalMinangkabaun roofs (see Rumah gadang). It is said to have cost 3,000 Guilder.



Jam Gadang
Jam Gadang at Night
















4. Religion Place



Mosque in Bukittinggi



Catholic Church in Bukittinggi

Catholic Church in Bukittinggi



5. Taman Bundo Kanduang park. 

The park includes a replica Rumah Gadang (literally: big house, with the distinctive Minangkabau roof architecture) used as a museum of Minangkabau culture, and a zoo. The Dutch hilltop outpost Fort de Kock is connected to the zoo by theLimpapeh Bridge pedestrian overpass.


* Rumah gadang (Minangkabau: "big house") - or more correctly called by Minangkabau people rumah bagonjong(Minangkabau: "house with horn-like roof") - are the traditional homes (Indonesian: "rumah adat") of the Minangkabau. The architecture, construction, internal and external decoration, and the functions of the house reflect the culture and values of the Minangkabau. A rumah gadangMinangkabau society being matrilineal, the rumah gadang is owned by the women of the family who live there - ownership is passed from mother to daughter. 



Rumah Gadang

The houses have dramatic curved roof structure with multi-tiered, upswept gables. Shuttered windows are built into walls incised with profuse painted floral carvings. The term rumah gadang usually refers to the larger communal homes, however, smaller single residences share many of its architectural elements.
A government building which contains elements of the rumah gadang style


Goverment Building

6. Limpapeh Bridge 

Limpapeh Bridge is a suspension bridge crossing over Jl.Ahmad Yani, Bukittinggi, a region connecting Fort de Kock and Parks Wildlife and Cultural Kinantan. Limpapeh bridge made 16 years ago is supported by the adjoining concrete-roofed building typical gonjong Minangkabau, and by four steel cables where bergelantungnya steel wires that hold the bridge.


Gonjong roofed concrete building in the middle of the bridge Limpapeh penetrated by Jl. Ahmad Yani. On the left is the area of ​​Fort de Kock, and on his right is the Wildlife Park and Cultural Kinantan. Visitors can enter from either the left or right Limpapeh Bridge, with only one paying.

Limpapeh which has a stretch of bridge 90 meters long and 3.8 meters wide, with steel wires holding the bridge rod, as well as aluminum plates on the surface of the bridge that still looks new and neat. Walking through Limpapeh Bridge is very convenient with less vibration and a nice swing.
Limpapeh Bridge

7. Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta (Museum of Bung Hatta Birthplace)

The house where Indonesian founding father Mohammad Hatta was born, now a museum.


Musseum


So,, visit Bukittinggi if you want to know more about this city. . .